Gunakan Batu Kapur, PLTU Tanjung Jati B Cegah Pemanasan Global
August 24, 2017
Edit
Isu peningkatan suhu udara di Jepara akibat PLTU Tanjung Jati B tidaklah relevan. Pasalnya, tren suhu udara di Jepara sepuluh tahun terakhir menurut BMKG justru mengalami penurunan hingga 0,5° C. PLTU dengan kapasitas 4 x 710 MW ini menggunakan batu kapur untuk menurunkan konsentrasi emisi sulfur hingga 98% atau hampir bersih.
FGD merupakan proses pencampuran emisi gas hasil pembakaran batu bara dengan zat pengikat agar kandungan sulfur yang dilepaskan ke atmosfer rendah. Pada umumnya zat pengikat yang digunakan oleh PLTU adalah air laut. “Hingga hari ini PLTU Tanjung Jati B adalah satu-satunya PLTU di Indonesia yang menggunakan teknologi batu kapur”, tambah Ari.
Ari mengungkapkan bahwa penggunaan air laut untuk FGD sebenarnya sudah cukup dalam menurunkan konsentrasi emisi sulfur batu bara hingga 90%. Namun karena komitmen PLN dalam menjaga kualitas udara bagi masyarakat dan lingkungan sekitar, batu kapur tetap menjadi pilihan karena bisa menurunkan hingga 98%. Walaupun penggunaan batu kapur dalam FGD memerlukan investasi yang lebih besar, yaitu sekitar 11-14% dari capital cost dibandingkan air laut yang hanya 7-10%. Investasi peralatan FGD di PLTU Tanjung Jati B mencapai Rp 1,5 Triliun untuk 2 x 710 MW. Hasilnya, 10 tahun beroperasi, sulfur yang terkandung dalam emisi gas PLTU Tanjung Jati B hanya berada di kisaran angka 100 mg/m3 dari baku mutu yang ditetapkan pemerintah saat ini sebesar 750 mg/m3.