-->

PLTU Tanjung Jati B Segera Gunakan Batu Bara Nabati

 


Setelah berhasli diuji cobakan di PLTU Ropa, Flores, pada 14-15 September 2020 penggunaan Batu Bara Nabati (BBN) bakal diterapkan di PLTU Tanjung Jati B. BBN adalah produk energi terbarukan yang berasal dari pengelolaan sampah biomassa dengan metode peuyeumisasi yang mampu menurunkan kadar air dibawah 10% dan memiliki kadar abu dibawah 7 persen, dan mampu mengoptimalkan nilai kalori pelet hingga 4500 kcal/kg dan ini merupakan yang pertama di Indonesia.

Uji co-firing di PLTU Ropa, Flores merupakan rangkaian uji coba yang dilakukan oleh PT PLN (Persero). Bersama anak perusahaannya dalam merealisasikan amanat peraturan direksi PT PLN (Persero) Nomor 001.P/DIR/2020. Tentang Pedoman Pelaksanaan Co-firing Pembangkit Listrik Tenaga Uap Berbahan Bakar Batu Bara dengan Bahan Bakar Biomassa. Serta target 100 persen rasio elektrifikasi serta capaian target 23 persen Energi Baru Terbarukan pada 2025 yang dicanangkan Kementerian ESDM.

General Manager PLN TJB Rahmat Azwin melalui Asisten Manager Komunikasi Grahita Muhammad menjelaskan, potensi sampah kayu di Jepara sangat melimpah. Gayung bersambut, inovasi BBN telah berhasil diuji coba. BBN dari sampah kayu itu, diproduksi menggandeng Dinas Lingkungan Hidup Jepara. Hasil produksi berupa pelet itu, untuk memasok BBN untuk co-firing di PLN UIK TJB.

Sampah serbuk kayu yang didapat dari bank-bank sampah di Jepara dan perusahaan mebel dikumpulkan dan diproses menjadi pelet BBN di tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (3R) Mulyoharjo. Mulai dari peuyeumisasi, pencacahan, dan jadi pelet. Ia berharap dalam proses pembuatan itu bisa menggerakkan ekonomi di tingkat bawah.

”Setelah sukses diuji coba, BBN mulai bisa kami terapkan di pembangkit Jepara. Bahannya akan dipasok oleh DLH dengan memberdayakan masyarakat,” ujarnya.

Hingga November mendatang ditarget bisa memproduksi 50-100 ton BBN. Setiap 100 ton BBN mampu menghasilkan 100 mega watt/hour.

"Kami sudah melakukan MoU dengan DLH Jepara terkait Batu Bara Nabati, Dan tentunya kedua belah pihak diuntungkan disisi kami yaitu ketersediaan bahan bakar dan penurunan biaya pokok produksi (BPP), sedangkan disisi DLH adalah pengelolaan atau permasalahan sampahnya," imbuh Grahita. 


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel